Prasasti Batu Tulis

Prasasti Batu Tulis

 

Prasasti Batu Tulis

Prasasti Batu Tulis

Prasasti Batu Tulis peninggalan kerajaan galuh pakuan

Prasasti Batu Tulis ini merupakan peninggalan dari Kerajaan Galuh Pakuan atau sering disebut dengan Pakuan Pajajaran atau Pajajaran. Sebuh kerjaan Hindu sejak abad 11 -16. Peninggalan sejarah ini adalah berupa tulisan yang ditulis pada batu. Batu yang digunakan adalah batu Terasit, yaitu jenis batu yang berada di sepanjang aliran Sungai Cisadane, Bogor, Jawa Barat.
Prasasti Batu Tulis Peninggalan sejarah ini ditulis dengan menggunakan huruf Sunda Kawi atau Pallawa serta memakai bahasa Sansekerta. Prasasti Batu Tulis ini dibangun oleh Prabu Surawisesa yang berkuasa pada kerajaan tersebut. Pada prasasti itu juga terdapat tulisan yang berangka tahun 1455 Saka atau dalam masehi tahun 1533.

Prasasti Batu Tulis Tujuan dibuatnya diduga untuk menegaskan jasa-jasa Prabu Siliwangi yang merupakan ayahanda Prabu Surawisesa. Namun para pakar meyakini bahwa prasasti ini di tulis setelah Sang Prabu Siliwangi meninggal dunia.

Terdapat versi lain yang menyebutkan bahwa prasasti ini dibuat sebagai bentuk penyesalan Prabu Surawisesa yang tidak mampu mempertahankan keutuhan wilayah Pakuan Pajajaran. Karena, pada zaman itu pasukan yang dipimpinya mengalami kekalahan saat pertempuran melawan Kesultanan Cirebon yang berujung hilangnya sebagian wilayah kerajaan.

Menurut penjelasan singkat penjaga situs ini, Ibu Maemunah, disebutkan bahwa situs prasasti ini dulunya adalah tempat yang dipakai sebagai podium penobatan raja-raja di Kerajaan Pajajaran.

VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie) atau Persatuan Dagang Hindia Timur merupakan sebuah ekspedisi yang pertama kali menemukan Prasasti Batu Tulis ini yaitu sekitar tahun 1687 dengan dipandu oleh seorang pemimpin bernama Scipio. Berita penemuan ini tercatat dalam laporan ekspedisi pada tanggal 28 Juli 1687.

Penelitian tentang prasasti Batu Tulis ini sudah dilakukan oleh banyan ahli arkeolog. Tercatat pada tahun 1853 seorang ahli dari Belanda yang juga diduga sebagai penemu patung Lembu Nandi di Kebun Raya Bogor. Sampai akhirnya Saleh Danasasmita peneliti sejarah Bogor menelitinya lagi sekitar tahu 1981-1984, ia kemudian menyusun ulang teks yang tertera pada Prasati Batutulis. Kemudian dari sinilah beberapa kesimpulan penting tentang asal usul situs peninggalan ini terkuak.